
Perjalanan diawali dari Jl.Sedapmalam Surabaya,jam 7.00 ibu-ibu PKK Kota Surabaya sudah menempati tempat duduk di kendaraan.Namanya ibu-ibu yang pasti beliau-beliau sudah menata diri supaya diperjalanan merasa nyaman.
Mau naik mobil station Elf atau naik bus Pemkot,terus mau duduk bersebelahan dengan siapa,semua sudah masuk perhitungan ibu-ibu. Untungnya sebelum berangkat Ibu Fat sudah menyampaikan susunan patner tidur dipenginapan,dan setiap bu Fat menyebut nama,ibu-ibu merespon dengan suara lantang “Cocok….cocok”.
Saya pilih naik bus karena pasti lebih seru suasananya dibanding dengan mobil station yang jumlah penumpangnya paling-paling 8 orang.
Dengan tanpa rencana mau duduk dengan siapa saja saya Ok,pokoknya bisa duduk.
Weleh,weleh saya urut dari depan,ternyata setiap kursi sudah ada tas yang bertengger artinya tempat sudah dibooking.Ternyata saya sudah dibookingkan tempat juga oleh bu Made.
Terima kasih ya bu Made,jadi saya bisa duduk ditempat yang nyaman dibangku ke tiga.
Tiga mobil station dan satu bus beriringan kearah keluar kota.O ,ya yang di bus ibu-ibu dikawal p.Yanuar yang biasanya sebagai driver ibu-ibu PKK dalam menjalankan tugas,kali ini p.Yanuar duduk manis di bus.
Sampai di SPBU Tol Sidoarjo rombongan berhenti sejenak biasa ibu-ibu pada turun untuk ngetap alias pipis.Lho kok gak berangkat2 ada apa ya…..o ternyata nunggu 1 mobil lagi,baru saya sadar
Bundanya(Kepala Dinas PKK he,he,he keren ya PKK punya Kepala Dinas) masih tertinggal dengan mobil kijang bersama mbak Dina(ajudan) karena beliau berangkat dari Pagesangan.
Lega rasanya setelah rombongan lengkap,tapi saya masih bertanya-tanya dimana bu Wilis yang kemarin sudah janjian mau berangkat kok gak jadi.Wah,ternyata kena cekal bukan dari Bapak tapi dari si adik Nabil.
Setelah keluar Sidoarjo menuju Porong,dalam hati saya berdoa semoga diberi kelancaran.Ternyata Tuhan mengabulkan,Porong bisa dilalui dengan lancar tanpa kemacetan.
Satu per satu bergantian ibu-ibu mulai membagikan sangunya,aneka makanan dari yang ringan sampai yang berat.
Kira-kira j.9.00 perut kok mulai lapar ya,padahal kue-kue sudah dimakan.Mulailah saya dan bu Made mengintip nasi kotak yang dibagikan sebelum berangkat.Tulisan dikotak Nasi Tambak Bayan,ah..pas banget untuk sarapan.Nasi uduk lengkap dengan empal,sambel lalap…..wenaak tenan apa mungkin karena nasi GAMBAS(Gak Tumbas) he,he,he
Sampai di Situbondo j.13.00 rombongan makan siang di rumah makan Ceryn,memang pas dengan namanya disana ada pohon cery atau keres saya nyebutnya talok,pohonnya lumayan besar dan rindang karena kanopinya memang seperti payung raksasa,cantik sekali dengan buahnya yang mungil-mungil merah.Sambil duduk2 diteras mushola menunggu ibu-ibu bergantian sholat dhuhur,kita gak tinggal diam tapi mulai menarik ranting2 sambil bergelantungan meraih buah keres.Ah memang buah keres merah yang manis membuat suasana seperti kembali kemasa kanak-kanak dulu.Kenangan masa lalu seperti terulang,kelihatan sekali yang masa kecilnya suka manjat pohon langsung dengan tangkas melompat untuk meraih ranting(termasuk bu Dyah)yang handal manjat pohon.Ada yang duduk sambil terbengong2 ngeliat tingkah polah temannya,rupanya ini ibu yang waktu kecil gak biasa manjat pohon dan mreteli dan makan keres.
Setelah makan siang dengan menu prasmanan,kembali kita ke kendaraan semula.Tapi apalgi ya yang dikerubutin ibu-ibu dihalaman rumah makan? O,ternyata ada pedagang ikan asin,pantas ibu2 gak langsung naik ke mobil malahan pada buka dompet alias belanja.Lho,ada yang beli perahu2an dari kayu,ternyata eyang putri teringat cucu di Sby,jadilah perahu2 kecil untuk oleh2 cucu tercinta.
Lanjut perjalanan ke arah Bondowoso tapi nggak masuk kota,terus jalanan menanjak.Karena bus pemkot tape/karaokenya gak ada jadilah bu Lisa yang menyanyi sepanjang jalan.Asyiknya yang dinyanyikan bu Lisa lagu2nya bu Kasur,AT Mahmud yang sekarang sudah langka.
Lagu “Naik,naik kepuncak gunung” oleh bu Lisa syairnya jadi “Naik2 kepuncak gunung,tinggi tinggi sekali,kiri kanan kulihat saja banyak gambarnya caleg ha,ha…..”
Ya,itulah wajah bangsa kita yang baru belajar berdemokrasi ternyata sudah merata sampai kepelosok-pelosok desa banyak foto-foto narsis terpampang dipohon…edan tenan.Yang partai Demokrat foto wajah ndeso bersanding dengan foto Obama,ha,ha,ha…
Ini semua bisa kita nikmati bersama karena cuaca yang cantik gak panas dan gak hujan.Rupanya Yang Maha Kuasa berpihak ke ibu2 PKK yang dengan tulus ikhlas sudah berja sepanjang tahun.
Takterasa memasuki desa Wonokusumo,jalannya semakin menanjak,sempit dan gronjalan,bu Abu yang terus berkomentar lucu2 membuat saya ngampet pipis.Yang saya rasakan persis waktu perjalanan dari Bacolod ke Bago City suasana daerah dan kondisi jalan yang jelek ditambah perasaan gak tahu kapan sampainya. Ee ternyata bu Dyah sms saya katanya persis sama waktu perjalanan ke Bago.
Jam 14.45 sampai di desa Sumber Wringin,hujan kecil2 dan kabut tebal.Berkali-kali berpapasan dengan truk2 yang turun dengan muatan kayu pohon pinus,wah…gak salah kalau hutannya pada gundul begini bencana banjir bandang dan longsor di Situbondo.
Perjalanan ternyata masih jauh menanjak dan gronjalan jam 17.00 sampai dipuncaknya terus menurun sedikit lagi sampailah di perkebunan PTPN XII Blawan Kalisat.
Tempatnya memang mengasyikkan,bangunan penginapan jaman Belanda dengan kamar yang berjejer,ada beberapa kamar yang di bagian atas,rupanya bangunan ini dulu merupakan rumah tinggal ADM jadi ada kolam renangnya,yang sekarang disewakan untuk agrowisata.Disamping kolam renang utama,ada kolam bundar kecil yang dialiri air panas yang mengandung belerang.
Mulailah bu Dyah mengawali masuk kekolam renang,diikuti bu Mursyam terus berendam dikolam air panas.Satu persatu ibu-ibu masuk dengan kostum seadanya,bu Djum dengan dasternya,saya mulai ditarik-tarik tapi mengingat kondisi badan yang flu saya gak berani,ee rasanya pengin juga akhirnya dengan diyakinkan ibu2 nanti batuknya malah sembuh saya nyemplung juga,memang badan terasa segar.Bu Mukhlas yang cuma melihat dari jauh akhirnya dicipratin air biar ikut nyemplung……wah ternyata bu Mukhlas bener2 takut air,ketakutan kalau tenggelam,walah bu wong dalamnya gak sampai sedada,jadi walaupun nyemplung satu tangannya tetap gak mau lepas pegangan bibir kolam…he,he,he
Acara kungkum sampai j18.30,baru jam 19.00 kita makan malam.
Makan malam selesai dilanjutkan bu Dyah nyanyi dan dimeriahkan bu Lisa berpasangan dengan bu Sur berdansa.
Kembali bu Fat mengumumkan acara besok,ditawarkan oleh pihak travel siapa yang besok mau mendaki ke kawah Ijen supaya siap jam 5.00,lha yang minat cuma 2 ibu(bu Dyah dan saya).
Rupanya ibu2 sudah nyerah duluan karena diberitahu jaraknya 3km jalan kaki menanjak ditempuh selama 3 jam.Wis pada kacrek sebelum dijalani,yang penasaran ya yang bonek masak pamit ke kawah Ijen gak ngeliat kawahnya ya rugi.
Rupanya semalam bisa merubah keinginan 3 ibu(bu Titik,bu Wira dan bu Dayu) tanpa sepatu hanya bermodal sandal akhirnya ikut juga,o,ya satu lagi peserta yang mau gak mau harus ngikut mbak Dina.
Dengan naik mobil kearah kaki gunung Ijen kira-kira 12km dari penginapan,mobil parkir dan mulailah perjuangan untuk mendaki sejauh 3km,start j6.30.
Mengatur nafas untuk naik terus hah,hah,hah bunyi nafas yang mulai terasa berat,masing2 berjalan semampunya sambil saling menyemangati.Sepanjang jalan yang mendaki berpapasan dengan pengangkut belerang yang turun dengan beban minimal 60kg,ah ,gak kebayang beratnya sedangkankita yang cuma bawa badan aja sudah terengah-engah.
Setelah lama perjalanan ditempuh setengah jam,bu Titik mulai menyerah beliau memutuskan untuk kembali kebawah alias ketempat parkir mobil…dengan ditemani pemandu dari travel bu Titik balik turun.Tinggallah kami berlima cewek(bu Dyah,bu Wira,bu Dayu,mbak Dina dan saya)meneruskan pendakian yang masih 2,5jam lagi.
Sambil berfoto ria supaya gak terasa jenuh,banyak yang lucu….tiba2 ada bpk.pengangkat belerang menawarkan foto bersama…kita ok aja kebetulan biar agak beda posenya,eee ujung2nya dia minta duit setelah jadi model berfoto bersama,he,he,he ada2 aja caranya cari duit.
Yang sempat hilang mendahului didepan malah bu Wira,ternyata beliau bisa semangat karena barengan dengan turis dari Perancis.Akhirnya jam 9.10 kita sampai ditempat yang agak datar diketinggian 2380m diatas permukaan laut,ah lumayan ada tempat pemberhentian rupanya tempat disini para pengangkut belerang menimbang pikulan belerangnya,rata2 mereka memikul 60-95kg perorang.Belerang2 itu dihargai Rp.600,-/kg.
Setelah kita minum teh panas diwarung itu, o ya saya sempat makan mie instan yang digelas berdua dengan bu Dyah maklum tenaga terkuras sejak berangkat belum sarapan apa2,wah rupanya gak cukup kalau 1 gelas berdua jadilah nambah lagi.
Perjalanan masih berlanjut tapi lumayan tenaga sudah diisi mie,ternyata pemandangan semakin fantastis ah,gak rugi kalau dibandingkan dengan perjuangan naiknya tadi.
Setelah 0,5 jam kita perjalanan sampailah dipuncak kawahnya,kabut sudah menutup pandangan,tapi kita tidak putus asa kita tunggu sampai kabut lewat….woo seperti disingkap setelah kabut lewat kelihatan kawah dibawah dengan warna hijau tosca….cantik sekali dengan diputari warna kuning….rupanya itulah belerang yang diambil para penambang,tampak mereka seperti semut berbaris ada yang naik dengan pikulan penuh ada yang turun dengan keranjang kosong.Setelah puas kita berpose dan menikmati ciptaan dan kebesaran Tuhan,akhirnya kita kembali turun.
Perjuangan turun ternyata tidak seringan yang kita bayangkan waktu naik.
Ketika naik tadi terengah-engah dengan nafas satu2,walah ketika turun bukan nafas yang berat tapi paha yang harus menahan badan untuk ngerem jauh lebih berat.
Karena sepatu yang kita pakai untuk jogging bukan sepatu untuk hiking jadi sulit ngerem…..sya sempat kebrosot2 jatuh terduduk,he,he,he dengan dipandu bu Dyah dan bu Dayu kita saling menguatkan untuk turun.
Akhirnya pas jam 11.00 sampailah kita ber 5 ditempat parkir mobil,dan bertemu kembali dengan bu Titik.